.


This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selamat Bergabung di Situs Motsy Totsy.

Situs ini menyajikan berbagai jenis informasi seputar kemanajerialan dan kepemimpinan. Selain itu, situs ini juga mempublikasikan berbagai jenis hasil karya Prof. Dr. Faisal Afiff, Spec. Lic. baik dalam bentuk jurnal ilmiah, makalah, buku, materi perkuliahan sarjana dan pascasarjana.

Selamat berselancar dan pastikan anda merupakan bagian dari mitra kami.

Rabu, 04 Januari 2012

Kepemimpinan Ke Depan


Kata Pengantar Rubrik Kolom
Diujung Tahun 2011

Rekan-rekan sejawat yang saya cintai,
Tulisan ini merupakan akhir tulisan saya di penghujung tahun 2011, dari rangkaian serial kolom saya yang pernah dimuat di rubrik ini. Mudah-mudahan rekan –rekan terinspirasi dengan hadirnya rubrik ini.  Agar hasil yang dicapai optimal, untuk selanjutnya saya akan padukan seluruh kolom yang pernah termuat tersebut kedalam sebuah buku – dengan lebih disempurnakan – yang semoga di awal tahun 2012, buku tersebut sudah dapat  dimiliki oleh rekan-rekan sejawat  yang berminat. Tiada lain, semoga ke depan rubrik semacam ini akan lebih semarak, dengan terlontar berbagai gagasan segar dari rekan-rekan sejawat untuk kemajuan dan kejayaan almamater kita tercinta. Insya Allah, di tahun 2012 sayapun akan terus berusaha mengisi rubrik ini dengan tema-tema lain yang mudah-mudahan lebih menarik. Akhirul kata, sekali lagi saya ucapkan selamat Tahun Baru 2012, jaya selalu almamater anda tercinta.

Kepemimpinan ke Depan
Dalam buku saya yang terbit diawal tahun 2011 dengan judul “meretas pemikiran strategic pemecahan masalah di Indonesia melalui teropong ekonomi, politik dan psikologi”, penulis sempat mengupas sepintas tentang kepemimpinan  di era transisional, yang kemudian melahirkan beragam sosok politisi era reformasi, dengan kemampuan oral dan verbal  yang baik, yang sempat membuat gaduh republik ini, namun disayangkan tidak satupun yang memiliki kualitas kepemimpinan yang baik, sehingga reformasi bagaikan “bola liar” yang tidak ada kendalinya. Eforia dan hiruk-pikuk  reformasi tersebut disamping tak jelas arah tujuannya, dengan biaya sosial-politik yang besar, namun hanya menyisakan puing-puing kekecewaan. Perkataan almarhum Gus Dur ada benarnya bahwa para politisi senayan itu bagaikan “arena taman kanak-kanak”  yang baru bangun dari lelap tidur panjang, kemudian ketika ada kesempatan “berisik”nya bukan main.
Seting yang melatari perilaku para politisi ini  bisa ditelusuri dari perjalanan sejarah bangsa Indonesia yang sempat mengalami era gaya kepemimpinan yang berbeda dari setiap periode kekuasan, baik yang bercorak orde lama, orde baru dan orde reformasi. Kita mengetahui di era orde lama lebih mengedepankan politik sebagai panglima,  orde baru lebih mengedepankan pembangunan ekonomi dengan mengejar pertumbuhan dan stabilitas, sedang di era reformasi merupakan periode transisi yang sangat rentan perpecahan, dengan dalih demokratisasi dan konsep “federalisasi” ala Amien Rais. Di masa orde lama, khususnya di masa transisi kemerdekaan, telah melahirkan banyak tokoh politisi dan negarawan berkelas, dengan watak dan kepribadian yang kuat. Kita bisa mengenang tokoh-tokoh seperti Agus Salim, Sutan Syahrir, Natsir, Wahid Hasyim, Sudirman, Sukarno dan Hatta, dan yang tak kalah kontroversial dan misteriusnya adalah Tan Malaka. Meskipun periode selanjutnya kekuasaan terkonsentrasi pada figur Bung Karno, tokoh karismatik dan orator ulung yang sempat memikat rakyat Indonesia khususnya dan dunia umumnya, dengan retorika dan gaya pidatonya, sering orang mensejajarkannya dengan Nehru, Kennedy, Kruschev sebagai tokoh yang disegani. Ketika masa keemasannya meredup dan diredupkan, kemudian seorang sosok militer kelahiran desa Kemusuk menggantikan Soekarno, dengan gaya kepemimpinan yang lebih “bercorak Jawa”. Pada awal periode pemerintahannya banyak orang yang masih meragukan kualitas kepemimpinan Soeharto, namun lambat tetapi pasti ia berhasil menganyam jaring tali-temali kekuasaan yang menggurita dengan memadukan kekuatan militer dan birokrasi serta penyederhanaan jumlah partai politik lengkap dengan  ketua parpol bonekanya, tidak dinyana kekuasaannya terus bergulir dan berakar sampai periode kurang lebih tiga puluh lima tahun. Dialah Soeharto, yang tampil di depan publik selalu berpembawaan formal, berwibawa,serta determinasi kekuasaannya terpancar dengan nuansa perpaduan protokoler militer dan aura raja jawa. Pembangunan ekonominya dianggap berhasil - meskipun menjadi negara pengutang – namun lambat laun rakyat merasakan kesejahteraan buah dari kepemimpinannya, meskipun ada kekangan terhadap menyatakan pendapat dan berekspresi. Di era ini muncul ekonom-ekonom tangguh yang sering dianalogikan dengan “mafia Barkley”, seperti Widjojo, Emil Salim, Ali Wardana, Sumarlin dan Saleh Afiff yang meletakkan dasar ekonomi perencanaan oleh negara (BAPPENAS), terkenal dengan tahapan REPELITA beserta delapan jalur pemerataannya. Lahirnya kepemimpinan dan tokoh masyarakat di era ini tidak lepas dari seleksi, kontrol dan monitoring dari pusat-pusat kekuasaan, sehingga proses pembentukkan kepemimpinan tidak terjadi secara alami. Pemerintah atau kekuasan politik pada waktu itu memiliki perekayasaan yang canggih, baik terang-terangan ataupun terselubung, untuk menghambat dan melapangkan jalan bagi siapa saja calon pemimpin yang hendak tampil di panggung nasional. Berbeda dengan di  era orde lama para pemimpin politik banyak bermunculan hampir tanpa katrolan, bergerak dan bergesekkan dari bawah dengan potensi terasah dan merangsek tahap demi tahap menuju puncak. Di era orde baru tokoh pemimpin muda pun tidak mudah melenggang masuk ke kancah elit, jika tidak melalui saluran-saluran organisasi  “under-bow” pemerintah yang sudah disediakan seperti KNPI dan organisasi-organisasi ormas lainnya. Bagaimanapun dalam era ini, tidak sedikit muncul tokoh-tokoh politik yang memiliki kecerdasan dan kematangan yang mampu mengatur “keseimbangan” kekuatan politik yang berjalan hampir tanpa adanya konflik vertikal maupun horisontal, sehingga  “stabilitas nasional” mampu dipertahankan dengan baik, di era ini muncul tokoh-tokoh sekaliber Ali Murtopo, Sarwono, Sudharmono, Abdul Gafur, Akbar Tanjung, Harmoko dan sederetan tokoh militer, yang berhasil menjalankan mesin politik Golkar dengan sangat efektif. Tokoh-tokoh yang kecerdasannya diakui, meski karakter dan integritasnya mungkin masih diragukan, mereka banyak ditemui di dalam kancah pangung perpolitikan di era orde baru ini.
Yang runyam adalah periode orde reformasi, kekuatan “people-power” dan mahasiswa yang berhasil melengserkan kepemimpinan Soeharto, terjebak dalam periode transisi yang berkepanjangan, dengan tidak ditemukannya lagi figur kepemimpinan yang kuat yang mampu mempersatukan dan meyakinkan masyarakat. Figur-figur yang sebelumnya diharapkan mampu mengatasi krisis-multidimensi dan instabilitas justru mengalami kemerosotan kewibawaan,  akibat terus-menerus dirongrong oleh para petualang politik di tingkat legislatif, sehingga tokoh reformis-ambisius semacam Amien Rais pun terpental tidak mendapat tempat dalam pucuk kepemimpinan formal, kecuali selaku ketua MPR, yang selanjutnya ia membentuk kaukus poros-tengah untuk membendung kekuatan Megawati, sehingga memunculkan Gus Dur sebagai pucuk kepemimpinan formal nasional. Dalam hal ini kecerdasan tokoh-tokoh Golkar yang sudah sangat terasah melanggengkan kekuasan selama orde-baru kembali piawai memainkan situasi, sehingga partai yang nyaris dibubarkan ini mampu lolos dari situasi kritis dan terbukti sampai saat ini masih menguasai panggung perpolitikan nasional. Figur-figur reformis muncul bergantian dalam tampuk kepemimpinan nasional-formal dalam waktu yang singkat, mulai dari Habibie, Gus Dur dan Megawati, sementara figur-figur lain seolah kehilangan momentum untuk melanjutkan agenda reformasinya, baik figur  Sultan, Cak Nur apalagi Amien Rais, dengan munculnya sosok  SBY sebagai figur militer yang tiba-tiba muncul dengan partai demokratnya sebagai pemenang pemilu. Rupanya rakyat Indonesia sudah jenuh dengan berbagai hiruk-pikuk  eforia reformasi yang tak berujung itu, tokoh-tokoh reformis akhirnya rontok dan tersingkir dari “gelanggang” sebagai korban situasi dan kondisi yang seolah direkayasa  tangan-tangan halus yang berhasil menggrogoti ketokohan mereka. Rakyat mulai memimpikan kehadiran figur-figur kuat kebapaan, seperti halnya Soekarno dan Soeharto yang dianggap berhasil dalam menjalankan tampuk kepemimpinan dan memberikan suasana aman dan kepastian, sementara banyak tokoh yang hanya menciptakan huru-hara, pertengkaran, debat tiada habisnya yang melelahkan mereka. Dan sosok yang dicari itu tergambar dalam postur SBY, pemeran tokoh Soeharto yang lebih demokratis dan manusiawi. Lahir kembalinya Soeharto yang lebih manusiawi inilah yang ada dalam benak dan “bawah sadar” masyarakat, sehingga mereka menambatkan hatinya pada figur SBY, yang melekat citra militer – yang belakangan justru dikecam tidak tegas – kebapaan, santun dan manusiawi, bahwa dirinya juga teraniaya dengan fitnah dan ancaman pembunuhan, dan ia mengajak rakyat menangis berpelukan bersamanya akan getir dan pahitnya kehidupan, sehingga ia berhasil mempertahankan kekuasan dalam dua periode kepemimpinan nasional dengan memahami denyut dan psiko-sosial bawah sadar masyarakatnya.
Era kepemimpinan Indonesia ke depan jelas harus lebih memahami tentang kondisi sosio-kultural dan sosial-psikologis masyarakat, mengingat ke depan era pemilihan langsung sudah semakin melembaga sehingga rakyat adalah faktor dominan dalam menentukan siapa pemimpin yang muncul ke depan. Di era reformasi kita telah banyak belajar, betapa carut-marutnya suasana perpolitikan di Indonesia saat itu. Kita hampir tidak pernah disuguhkan pentas perpolitikan dengan sajian yang cantik, unik, menarik dan berkelas. Semuanya serba serabutan yang penuh dengan hujatan, cacian dan makian, tatanan norma dan budaya khas ketimuran telah diaduk-aduk dengan demokrasi “ala-cowboy” itu. Figur Gus Dur yang dihormati oleh hampir semua kalangan dan golongan sebelum menjadi presiden, setelah menjadi presiden ketokohannya dimerosotkan menjadi bahan ledekan dan gurauan, sebagai puncak kemrosotan budaya dan peradaban anak bangsa sampai ketika ia dilengserkan. Era reformasi adalah era dimana nafsu, ambisi, rasa tidak tahu-malu, egoisme,  dipagelarkan dalam panggung “srimulat” yang acap memalukan. Manusia-manusia yang tadinya tidak dikenal keberadaannya, tiba-tiba bermunculan di panggung senayan lengkap dengan segala “anekdot”  wakil rakyat yang baru melek demokrasi, dengan berbagai skandal dan ulah yang mengejutkan, sehingga menjadi santapan empuk para politisi wajah lama yang sudah sangat piawai.
Bawah sadar masyarakat selalu memimpikan jaman keemasan, dan jaman keemasan itu biasanya tidak merujuk ke masa depan, melainkan akan lebih nyaman merujuk kepada “jejak memori masa lalu”, itulah masyarakat kita yang lebih menyukai spekulasi tentang kedatangan ratu adil dan ramalan joyoboyo. Pemilih masyarakat terdidik mungkin akan lebih menggunakan kriteria atau parameter rasional, namun sebagian besar masyarakat di pelosok negeri mungkin masih terpengaruh oleh alam pikiran yang irasional dalam  memilih dan menentukan pemimpin mereka ke depan, disamping menjamurnya kecurangan dan politik uang. Orang berpendidikan pun sama memimpikan munculnya masa keemasan di bumi pertiwi ini. Ketika Profesor Santos dari Brasil -yang belakangan di dukung oleh temuan Openheimmer- menyatakan argumentasinya bahwa peradaban atlantis itu sebenarnya dulu adalah di Indonesia, bawah sadar kita menginginkan bahwa masa keemasan itu memang ada, buku itu banyak dibaca oleh kalangan terdidik. Masa lalu lebih memberikan rasa aman dan pelipur lara, sementara masa depan adalah ketidak-pastian, maka apa yang pernah diraih di masa lalu lah yang harus terjadi di masa depan Indonesia. Oleh karena itu ketika orang dikecewakan oleh pencapaian masa kini, biasanya mereka menyukai untuk bernostalgia tentang keindahan masa lalu, seperti masa-masa berpacaran atau berbulan madu. Begitu juga perhatian masyarakat pernah tersita untuk menyaksikan prosesi perkawinan di kerajaan Inggris, belakangan pun orang tersita dengan perkawinan putri sultan di kraton Jogyakarta, dan yang terjadi baru-baru ini dengan perkawinan Ibas putra SBY dengan putri Hatta Rajasa, dengan suasana adat-istiadat istana jaman keemasan Sriwijaya, masyarakat kecil berbondong-bondong ingin menyaksikan secara langsung atau melalui televisi, dimana secara bawah sadar masyarakat masih menyukai dan terhibur oleh dongeng-dongeng cerita putra-putri raja-raja.
Indonesia dengan masyarakat dunia lainnya tengah masuk keabad modern penyatuan dunia, yang semuanya menjadi lebih mudah dan lebih dekat. Namun demikian – seperti kata psikolog Jung –  bawah sadar masa lalu adalah dimensi unik yang tidak bisa diabaikan sebagai endapan sejarah manusia, Mereka adalah bagian yang integral dalam eksistensi manusia sehingga ia akan selalu seimbang. Dialektika masa lalu, masa kini dan masa yang akan datanglah yang menyebabkan manusia terus dapat berevolusi secara sinambung dan seimbang. Tipologi kepemimpinan masa depan harus merepresentasikan harapan masyarakat seperti demikian, yang masih dan akan terus dipengaruhi oleh dimensi rasionalitas dan irasionalitasnya. Tipologi kepemimpinan yang merepresentasikan kepekaan akan sejarah, budaya, sosok panutan dan kebapaan, yang kesemuanya membawa impian-impian akan hari esok dan kepastian yang lebih cerah, serta toleran akan kemajemukan dan perbedaan, merupakan sosok yang masih akan disukai orang. Bisa jadi peristiwa pernikahan pembesar negara di istana Bogor akhir-akhir ini merupakan alternatif isyarat-dini imajinasi suksesi kepemimpinan di masa depan, melalui kemasan budaya. Fenomena diatas merupakan sesuatu hal yang sangat menarik dan dinantikan oleh seluruh masyarakat pada saat suksesi kepemimpinan di era 2014.

Jakarta,27 Desember 2011

Diaspora Kepemimpinan Nasional


Diaspora Kepemimpinan Nasional

Sebagaimana yang tersirat dalam pelbagai kepustakaan, ternyata pakar manajemen sudah lama mengingatkan kita bahwa pemimpin adalah individu yang berkemampuan meniupkan roh bagi suatu organisasi. Oleh karena itu, tidak dapat dipungkiri lagi kepemimpinan merupakan faktor penentu bagi hidup, berkembang, juga matinya suatu organisasi, baik di sektor publik maupun bisnis, di tingkat puncak, menengah dan bawah yang dimiliki oleh negara maupun swasta, baik menyangkut kepemimpinan tunggal ataupun kolektif- kolegial.
Suatu pembicaraan, misalnya saja mengenai tipe kepemimpinan Gus Dur selaku kepala negara dan mandataris MPR, misalnya saja jika seandainya pada saat itu Ia berkehendak secara sukarela menyatakan pengunduran dirinya atau bila Ia secara konstitusional dilengserkan oleh MPR; maka tentunya fenomena seperti itu dapat ditafsirkan di satu sisi sebagai telah berakhirnya era kepemimpinan nasional yang tunggal di Indonesia dan disisi lain pertanda awal mulai lahirnya kebutuhan terhadap diterapkannya tipe kepemimpinan yang kolektif-kolegial, khususnya di sektor pemerintahan. 
Kekecewaan demi kekecewaan terhadap eks-pemimpin negara semasa Soekarno, Soeharto, dan  B.J.Habibie, yang dirasakan oleh elit bangsa - terutama elit politik - nampaknya telah membentuk persepsi bawah sadar, bahwa kepemimpinan nasional tunggal adalah sesuatu yang traumatik dan disikapi secara negafif, bahkan mungkin ditabukan. Fenomena seperti ini sebenarnya sudah terlihat secara samar-samar pada saat terjadi pembagian kursi kepemimpinan negara antara Gus Dur, Megawati, Amien, dan Akbar. Namun euforia reformasi pada waktu itu membuat kita semua terlena dan mengabaikan diri untuk menelaah secara lebih detil makna yang terkandung atas penolakan bawah sadar para elit politik terhadap tipe kepemimpinan tunggal tersebut.
Seting Indonesia sebagai negara stabil, memiliki pemimpin tunggal yang kuat, dengan laju pertumbuhan ekonomi yang relatif cukup mengagumkan, mendadak berubah tatkala Soeharto secara tiba-tiba menyatakan berhenti sebagai kepala negara. Situasi ini identik dengan hikayat kerajaan di masa silam, taktala seorang raja yang kuat telah wafat dan digantikan oleh putra mahkotanya yang lemah, maka secara spontan bermunculan raja-raja kecil yang menuntut andil kekuasaan sekaligus kekayaan.
Walaupun demikian, secara bersebrangan, atmosfir psikologis yang muncul taktala Soeharto lengser adalah adanya kevakuman atas kepemimpinan negara yang tunggal di bathin masyarakat; walaupun pergantian kekuasaan secara formal telah berlangsung mulus dengan naiknya B.J. Habibie sebagai kepala negara yang baru. Kemudian, terpilihnya Gus Dur secara demokratis sebagai kepala negara berikutnya tidak serta merta mampu menghapuskan kenangan masyarakat tersebut tentang pernah hadirnya suatu kepemimpinan tunggal dengan kekuasaan bulat dan nyata selama lebih dari tiga puluh tahun. Bukan hanya itu saja, bahkan masyarakat juga menyaksikan bahwa kekuasaan yang bulat tadi kini telah berserakan menjadi kepingan kekuasaan yang saling diperebutkan para elit politiknya. Fenomena seperti ini, dapat dimaknakan sebagai diaspora kepemimpinan.
Kenangan masa lalu akan gaya kepemimpinan negara yang tunggal, yang melekat telah lama di benak bangsa Indonesia, menimbulkan pengaruh yang teramat dahsyat dalam proses pembentukan persepsi masyarakat atas gaya kepemimpinan tunggal tersebut. Termasuk pula kenangan yang menyangkut atas kekuasaan seorang figur Bapak yang sangat terasa kehadirannya di rumah tangga masyarakat, sehingga mampu menumbuhkan “sugesti rasa aman” bagi segenap warga masyarakatnya di seantero wilayah tanah air, baik itu berupa kenangan manis ataupun kenangan pahit.
Jika selanjutnya kita mengikuti wacana berfikir pemasaran sosial yang sangat menekankan akan pentingnya penempatan posisi suatu jasa pemerintahan  - dalam konteks ini adalah figur kepala negara - dimata masyarakatnya, maka terciptalah situasi dimana semakin kuat posisioning figur tersebut, sehingga akan semakin sulit bagi pemerintah untuk mensubstitusikannya dengan figur pemimpin yang lain. Konsisten mengikuti pandangan ini, sangatlah sulit rasanya secara ilmiah maupun alamiah bagi masyarakat Indonesia untuk segera mencari alternatif pengganti figur kepemimpinan yang diasumsikan telah memiliki posisioning lebih kuat dari Soeharto selaku mantan kepala negara di masa orde baru, apalagi proses pergantian kekuasaan saat itu berlangsung secara mendadak.
Disadari, bahwa persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang posisioning sesuatu subjek atau objek tidaklah senantiasa selalu berkaitan dengan kualitas dari subjek ataupun objek tertentu. Artinya, figur seorang pemimpin yang berkelas belum tentu akan diposisikan lebih kuat ketimbang figur seseorang pemimpin lainnya yang berkelas pas-pasan, karena penempatan posisi ini berakar dibenak citra masyarakat, dimana citra tadi boleh jadi akan berbeda dengan realitasnya.
Oleh karena itu, para pakar pemasaran sosial berkeyakinan bahwa, pemimpin yang memiliki posisioning  figur yang paling kuatlah yang akan cenderung diterima kehadirannya dan dipatuhi oleh warga masyarakatnya. Sehingga kompetisi yang terjadi antar pemimpin untuk saling memperebutkan dukungan dalam memperluas arena kekuasaannya patut dimaknai sebagai perang di layar persepsi rakyat dalam memperebutkan posisioning figur pemimpin tersebut dibenak masyarakat yang biasanya dilakukan melalui serangkaian upaya mengkomunikasikan  citra dirinya.
Apabila menilik hakikatnya, maka realitas pemasaran sosial – dalam hal ini politik – akan tampak identik dengan realitas pemasaran bisnis, yang mengenal ada produk lama dan ada pula produk baru dan tentunya ada negarawan lama dan ada pula negarawan baru. Produk yang lebih dahulu muncul di pasaran kemungkinan akan memiliki posisioning kuat dibenak konsumennya, demikian  pula halnya dengan negarawan yang lebih dulu dikenal warga  masyarakatnya berkesempatan memiliki posisioning yang lebih kokoh, bahkan bisa beregenerasi, ketimbang negarawan yang baru saja muncul dan menjadi terkenal belakangan hari.
Meninggalnya Bung Karno dan lengsernya Soeharto, tidak serta merta merubah posisioning kedua figur tersebut di forum publikum. Nampak dengan jelas disini, bahwa gambaran penempatan posisi figur seorang kepala negara amatlah terkait dengan imajinasi masyarakat mengenai diri sang pemimpin itu sendiri, yang kesemuanya akan dicermati melalui proses persepsi yang belum tentu proporsional dengan realitas maupun kualitas figur kepemimpinan yang sesungguhnya. Walaupun realitas politik menunjukkan bahwa presiden pertama dan kedua di Indonesia adalah pemimpin negara yang terpaksa harus kehilangan kekuasaannya dikarenakan adanya tekanan para demonstran dijalanan, namun sekaligus tidaklah berarti posisioning figur kedua pemimpin ini dihadapan sebahagian besar masyarakatnya serta merta melemah atau memudar. Kita bisa dengan gamblang melihat sukses yang dicapai PDI-Perjuangan  yang diketuai oleh Megawati Soekarnoputri ternyata sanggup menjadi partai pemenang pemilu pada tahun 1999. Jika kita tengok selanjutnya, partai Golkar yang menduduki peringkat kedua pada pemilu tersebut, tiada lain adalah partai yang pernah dibina dan dibesarkan oleh Soeharto.
Inilah realitas imajinasi manusia Indonesia, realitas persepsi masyarakat Indonesia, dan realitas posisioning figur kepemimpinan negara bagi masyarakat dan bangsa Indonesia dimata forum publikum, yang kesemuanya mengisyaratkan runtuhnya kepemimpinan orde lama yang diiringi dengan kemunculan kepemimpinan orde baru; dan kemudian secara berulang taktala kita menyaksikan tumbangnya kepemimpinan orde baru yang diikuti dengan munculnya kepemimpinan orde reformasi, tidak berarti merubah posisioning kepemimpinan figur bapak proklamasi dan figur bapak pembangunan di tanah air.
Euforia zaman dan kebebasan pers telah membuat banyak orang lupa mengkaji secara cermat dan jernih problematika posisioning figur kepemimpinan ini yang dikemudian hari dapat menimbulkan dampak kehancuran persepsional pada makna realitas maupun terhadap dinamika komposisi dan konfigurasi tipe kepemimpinan itu sendiri, di medan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara; yakni berupa munculnya kepemimpinan negara yang tunggal, legitim, namun dimaknai sebagai figur yang hampa posisioning oleh anak bangsanya. Tragis memang, namun demikianlah kenyataannya, dan jika hal ini berproses menjadi berkepanjangan dapat kiranya melahirkan gejolak situasi hampa kekuasaan dan hampa keamanan – seperti halnya yang tengah dihadapi masyarakat dibelahan Amerika Latin – walaupun figur kepemimpinan tersebut diasumsikan telah banyak berbuat untuk meningkatkan kewibawaannya.
Dialektika seperti ini di Indonesia lambat laun dapat menumbuhkan perasaan frustasi eksistensial, baik bagi si pemimpin itu sendiri maupun bagi warga masyarakat yang tengah dipimpinnya, dimana salah satu fenomena tersebut akan ditandai oleh meningkatnya eskalasi konflik tanpa ujung antara kepala negara dengan parlemennya.
Mungkin pada akhirnya, bisa disepakati disini bahwa problematika mendasar yang tengah dihadapi di era reformasi sekarang ini, justru terletak pada persepsi sebahagian besar anak bangsa yang terbukti dari hasil pemilu pada tahun 2009 masih mempersepsikan Bung Karno dan Soeharto secara imajinatif sebagai figur dengan posisioning kepemimpinan yang jelas dan kuat, yang dirasakannya secara afeksional di bathin masyarakat Indonesia.
Secara jujur patut diakui bahwa, sampai saat ini belum ada satupun anak bangsa yang memiliki posisioning figur kepemimpinan yang jelas, kuat, dan nyata. Dan dalam seting Indonesia yang demikian ini, beban berat bagi siapapun juga yang kelak akan menjadi figur kepala negara pada pemilu tahun 2014 yang akan datang. Menilai seting kepemimpinan Indonesia yang diasporatif demikian, maka figur siapapun yang terpilih sebagai kepala negara perlu melakukan pembagian beban posisioning kepada  figur pemimpin lainnya, dengan membangun tipe kepemimpinan presidensial yang bersifat kolektif-kolegial, atau dengan ungkapan lain figur kepemimpinan presidium. Tentunya hal ini kembali terpulang sepenuhnya pada para pakar hukum tata negara untuk merumuskan secara komprehensif berbagai perangkat legal-konstitusionalnya.
Last but not least, analisis demikian lebih dimaksudkan sebagai bahan masukan bagi masyarakat, khususnya organisasi politik didalam mengkader dan melahirkan sosok pemimpin representatif  – apakah bersifat tunggal atau presidium –  yang pada akhirnya akan menentukan reposisioning figur kepemimpinan yang kokoh dan sangat diperlukan bagi masyarakat di arena pemilu yang akan datang.

Jakarta, 20 Desember 2011

Senin, 12 Desember 2011

Kepemimpinan Politik Berkelas


KEPEMIMPINAN POLITIK BERKELAS
Nampaknya dalam dentingan waktu yang tidak lama lagi, di tahun 2014, masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia akan kembali melangsungkan pemilu untuk memilih salah seorang kandidat untuk menjadi presiden. Walaupun waktu sedemikian cepat berlalu, namun tentunya masih terbayangkan di benak  banyak  orang  suasana yang riang beberapa tahun ke belakang, taktala rakyat di negeri ini dengan rasa suka cita penuh canda beramai-ramai terjun berpesta pora demokrasi di negara ini mencoblos tanda gambar pilihannya sendiri.
Rasanya tidak pernah terbayangkan dibenak rakyat, jika kemudian hari, pemilu di zaman reformasi yang menggembirakan itu lambat laun hanya menyisakan kegalauan mendalam, karena memunculkan sosok para politisi yang memang cukup cerdas, namun dengan kapasitas kepemimpinan serba terbatas. Inilah mungkin dilema krusial Indonesia sekarang, dimana banyak tersedia para politisi pandai, juga kaya raya, berlalu lalang di seantero nusantara, namun minimalis kelas kepribadiannya.
Patut dihayati sepenuhnya, bahwa tumbuh kembangnya profil tokoh-tokoh politik yang berkelas atau bahkan tidak berkelaspun, biasanya sangat erat berkaitan dengan seting psikososial yang melatarbelakanginya, terutama pada saat pembentukan jatidiri para politisi ini sedari usia muda, ketika mereka mulai berkiprah empirikal terjun ke forum publicum menata karir pribadi berikut keorganisasian. Jika keluhan kritikal tadi, tertuju pada perihal kurang berkelasnya sepak terjang perilaku para pemimpin politik sekarang – khususnya mereka yang tengah memiliki posisi dan peran di lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif – maka itu semua tidak bisa dilepaskan dari konteksnya dengan seting makro sosial zaman berkilaunya komunitas orde baru di panggung kekuasaan.
Seandainya dirunut sejenak ke belakang, akan muncullah jejak ingatan kolektif kita atas warna zaman orde baru yang telah berlalu, taktala pemimpin politik sekarang masih nampak marjinal sosoknya, dan bahkan disibukkan energinya untuk bersaing dengan rekan-rekan segenerasinya, berupaya mencari celah muncul ke pentas permukaan panggung politik nasional; mungkin demi partisipasi bawah sadar dirinya sendiri agar ikut menggapai cita-cita primadona sebagai slogan pembangunan “lepas landas” menetas dari atas yang waktu itu gencar  nian dikumandangkan dan dipraktekkan.
Teramat menarik untuk dikaji ulang lebih mendalam adalah seputar perbedaan nuansa corak warna zaman dalam proses kemunculan para pemimpin politik antara kelompok orde lama yang membanggakan dimensi politik sebagai panglima, dengan kelompok orde baru yang mengkampanyekan ekonomi sebagai primadona, bagi keberlangsungan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Boleh dikatakan, di era orde lama para pemimpin politik banyak bermunculan tanpa diorbitkan, bergesekan dari bawah mengasah potensinya setapak demi setapak hingga mencuat menuju puncak.
Sedangkan di era orde baru, justru tersirat dan tersurat dinamika sebaliknya, dimana hampir sebahagian besar proses kemunculan para pemimpin, baik di kancah politik maupun nonpolitik, baik di jalur formal maupun nonformal, tidaklah terkristal secara normal. Pemerintah pada momen itu, senantiasa berperan serta mengupayakan suatu perekayasaan yang teramat canggih, langsung maupun terselubung dalam menentukan dan melapangkan jalan bagi naik daunnya figur-figur yang diminatinya agar sukses meraih popularitas melenggang ke permukaan menjadi insan-insan pemimpin di beragam komunitas atau organisasi, termasuk pula tentunya mengiringi lahirnya ketokohan sebagian besar para politisi sekarang yang kini kita sudah kenali kiprah kesehariannya di era reformasi ini. Jasa baik pemerintahan orde baru kala itu, dalam mengatur  kemunculan figur-figur para pemimpin politik tingkat provinsi maupun nasional, secara instan tanpa perjuangan yang proporsional, pada akhirnya justru memunculkan pemimpin yang cukup memiliki kecerdasan namun dengan struktur kepribadian yang timpang, sehingga acapkali menampakkan kekurangmatangan, kurang sabaran, kurang bertanggung jawab, dan kurang kepekaannya.
Berbeda dengan perilaku para pemimpin politik di dunia barat, yang rata-rata menempuh perjalanan karirnya dari bawah, melewati dinding-dinding terjal percaturan politik yang sarat intrik, mengasah sensitifitas sekaligus kematangan kepribadian dirinya untuk kelak menjadi seorang tokoh yang berkelas. Oleh karena itu, jarang dijumpai disana ada individu yang berkehendak menjadi pemimpin politik serba mendadak melalui jalur cepat, karena disadari sepenuhnya alam perpolitikan adalah jauh lebih sulit, elastis, dan rumit ketimbang dunia bisnis yang serba pragmatis, kemiliteran yang serba taktis, keagamaan yang serba etis, ataupun pendidikan yang serba filosofis.
Wajarlah kemudian, dengan memahami perbedaan seting makro sosial yang nampak bertolak belakang antara kelompok orba dan kelompok orla itu, jika kemudian sejarah dimasa “revolusi belum selesai” telah mencatat begitu banyak bermunculan figur-figur kepemimpinan di lingkaran elit komunitas politik, dimana sedari muda usia mereka sudah menunjukkan bakat dan totalitas kepribadian diri selaku individu yang cerdas dan berkelas, yang mana seringkali membuat pihak penjajah Belanda maupun Jepang terpana dan tak berkutik lagi taktala berhadapan muka dengan mereka.   
Dampak keorganisasian yang langsung terasakan dari hadirnya kepemimpinan politik yang kurang berkelas ini adalah pada tumbuh-kembangnya kerancuan langkah-langkah manajerial partai-partai politik yang lebih mengedepankan perilaku pemimpin taktikal ketimbang pemimpin strategikal, sehingga tidak mengherankan jika kemudian rakyat hanya disuguhi manuver-manuver politik gampangan dan terlalu transparan, yang dengan jelasnya terpampang tirai motivasi material semata, dibalik dendang skenario moralitas yang tengah didengungkan membahana di media massa. Semenjak reformasi bergulir, rasanya dipentas perpolitikan Indonesia tidak pernah sedikitpun disaksikan lahirnya pemimpin politik yang cantik, unik, dan berkelas. Yang nampak hanya titian langkah grasa-grusu diburu nafsu, saling menghujat seolah dirinyalah yang paling benar sendiri, berkomentar asal-asalan tanpa pemikiran mendalam, semena-mena menuding segala kesalahan terhujam pada pihak seberang, dan menurunnya genderang motivasi berprestasi seiring bergemuruhnya motivasi mempertahankan kekuasaan dengan cara apapun juga. Kelalaian semacam ini tentu saja merupakan makanan empuk bagi para pemuja orba, untuk menanti kiprah insan-insan kepemimpinan politik reformasi sekarang ke gerbang kehancuran masa depan karier gemilangnya, dikarenakan dalam waktu yang tidak lama lagi masyarakat awam akan  menilai mereka sebagai pemimpin politik yang gagal dan bahkan lebih kurang berkelas ketimbang figur-figur kepemimpinan politik yang telah tenggelam.

Dan, wajar kiranya, jika “zaman normal” pembangunan lepas landas kembali terbetik di sanubari banyak orang dan dimimpikan segera datang mengusir kelelahan dan kecemasan, menunggu perbaikan kesejahteraan rakyat yang tak kunjung datang, terkecuali hanya pada segelintir orang di pentas kepemimpinan politik yang hinggap mendemonstrasikan gaya hidup berkecukupan ditengah-tengah membengkaknya pengangguran dan indeks pembangunan manusia (human development index) yang semakin menurun dan dianggap pandir oleh warga dunia. 
 Terlalu menyalahkan para pemimpin politik sekarang sebagai biang kegagalan bergulirnya arus reformasi zaman, tentunya bukanlah tindakan arif - bijaksana; karena perilaku merekapun yang egoistis seperti itu sesungguhnya lahir akibat olahan rekayasa psikososial zaman silam. Hal penting yang perlu dilakukan menjelang pemilu 2014 nanti adalah menyadarkan persepsi para pemimpin politik berikut organisasi politik yang menaunginya, agar mulai berbenah diri saling berintrospeksi, untuk menata kembali jati diri tatanan perilaku individualnya maupun kepribadian kolektifnya, sebelum kekecewaan masyarakat memuncak dengan menolak kesemena-menaan kehadiran mereka selaku pemimpin politik dan calon presiden pilihan yang didambakan, dan selain itu tanpa daya menginginkan kembali kepada komunitas faham otoritarian, yang telah menunggu momentum come back-nya mereka dengan melepas topeng kosmetika psikologikalnya.
Menyadarkan sepak terjang jagat pemimpin politik Indonesia, terutama dalam meneguhkan watak berkelasnya  -  dengan kembali merenung ulang jejak kesejarahannya menjelang pesta demokrasi yang di tahun 2014 kembali akan digelar - nampaknya patut dijadikan strategi dan program andalan bagi segenap pemimpin politik terkait dan yang merasa berkepentingan agar sang kandidat sanggup lolos mulus ke gerbang kepresidenan, memetik gemuruh simpati dan empati coblosan kartu pilihan suara yang melekat di hati nurani rakyat.
Untuk itu, perilaku kepemimpinan politik yang berkelas - dengan belajar dari para pemimpin politisi zaman normal dulu - lazimnya patut mengejawantahkan karakteristik individunya, yakni: sangat menyadari batas-batas potensi yang ada dalam dirinya, rendah hati, satunya kata dan perbuatan, menghargai kaum perempuan, memegang teguh komitmen lisan maupun tertulis, menghayati posisi dan peran apa yang layaknya akan dijalani secara proporsional, jujur, berdisiplin, bersahaja, pekerja keras, cerdas, dan berani berkorban tanpa beban.
Gelegar sang pemimpin politik yang berkelas yang teramat langka di negeri ini mudah-mudahan akan bersemi di antara ratusan juta jiwa anak bangsa, menuntun langkah insan nusantara tercinta menggapai cita-cita, bergegas melaju, bahu-membahu menjadi satu masyarakat yang bangga dan menghargai bangsa dan negaranya.
Jakarta, 12 Desember 2011
Faisal Afiff

Kamis, 08 Desember 2011

Kepemimpinan Empati


Kepemimpinan Empati

Diantara ribuan sukses Robert Eaton yang telah diraih,  maka langkah pertama yang diambil  ketika ia menggantikan Iacocca di perusahaan otomotif Chrysler, membentuk “Senior Management Behavior Team”, yakni suatu program yang dirancang untuk melatih para pejabat senior perusahaan tersebut agar mereka lebih mudah didekati, mau mendorong keterbukaan karyawannya, dan mau menyapa serta mendengarkan keluh kesah bawahannya. Robert Eaton sering dijuluki sebagai seorang pemimpin yang selalu mudah dihubungi, memiliki kemampuan intuitif, dan bersedia mendengar serta memberi petunjuk dengan empati. Bahkan, Ia sering menjawab sendiri telepon untuknya dan acap kali bercakap-cakap santai dengan para manajer dan karyawan Chrysler.
Para peneliti di Center for Creative Leadership menyatakan bahwa ketidakpekaan seseorang terhadap orang lain, merupakan salah satu faktor utama yang menyebabkan kegagalan seorang eksekutif dan pemimpin. Hasil penelitian lain menunjukkan bahwa kesediaan seseorang untuk memahami perspektif orang lain (empati), merupakan faktor keberhasilan yang signifikan dalam aspek kememimpinan. Konon, harus diakui adanya kekahawatiran di kalangan para eksekutif atau manajer, jika mereka terlalu dekat dengan karyawan atau bawahannya, maka kedekatan itu akan merusak sikap objektivitasnya. Oleh karena itu, seseorang enggan bersikap tulus dan terus-terang kepada orang lain, karena dihinggapi beberapa kekhawatiran yang sangat mendasar. Bahkan, tatkala berhadapan dan bertatap muka sekalipun, tidak sedikit orang yang tidak mengatakan apa yang sebenarnya, dikarenakan takut akan membuat lawan bicaranya marah.
Lewis E. Platt di perusahaan Hawlet-Packard (HP), identik melakukan apa yang pernah dilakukan Robert Eaton di perusahaan Chrysler, adalah dengan tetap berusaha menciptakan iklim kerja, dimana perasaan keakraban tetap hidup di perusahaannya. “Ngobrol” sambil minum kopi diadakan secara berkala oleh Platt yang diikuti dengan percakapan langsung, suasana empati, dan intuitif berupa dialog mendalam yang bertujuan mendengarkan langsung para karyawan, dan kemudian ditindak-lanjuti dengan memasukkan berbagai gagasan dan pemikiran mereka ke dalam proses inovasi dan operasional perusahaan secara berkesinambungan. Langkah seperti itu juga akan menciptakan perasaan memiliki dalam ikatan yang lebih meresap kedalam hati dan menjalar keseluruh denyut organisasi perusahaan HP yang ia pimpin. Hubungan keakraban dan empati yang demikian berpusat pada semangat saling berbagi, dimana keseluruhan jajaran kepersonaliaan saling memperoleh kegunaan dan manfaat, semakin sejahtera, tumbuh dan berkembang. Karenanya, kesadaran akan adanya ikatan ini membuat mereka menjadi lebih terbuka untuk belajar tentang perasaan dan pandangan baru, yang kesemuanya akan memicu kreativitas dan raihan terbaik bagi individu maupun kelompok atau tim kerja.
Sejalan dengan hal di atas, Robert Peterson, seorang profesor mata kuliah pemasaran dari University of Texas, , telah menemukan hubungan yang signifikan antara kepuasan pelanggan dan kelangsungan organisasi bisnis, yakni perlu adanya hubungan empatik antara para pelanggan dengan barang dan/ atau jasa yang ditawarkan para pemasar. Menurut Robert Peterson, hal utama yang membuat pelanggan puas dan organisasi bisnis berkesinambungan bukanlah hanya sekedar faktor mutu, harga yang bersaing, dan sigapnya pelayanan saja namun yang lebih penting dibalik hal itu adalah adanya ikatan saling hubungan dan perasaan saling-memiliki terhadap arti hubungan pertukaran tersebut. Phil Quigley, CEO Pacific Bell, dengan tegas berpendapat bahwa ia tidak memandang kepemimpinan sebagai suatu keahlian, namun lebih melihat kepemimpinan sebagai suatu hubungan. Bahkan Irwin Federman, pemimpin Advance Micro Devices lebih tegas lagi menyatakan: “seseorang sebaiknya peduli kepada orang lain bukan karena siapa mereka, namun peduli kepada orang lain karena mereka menggugah perasaannya”.
Penelusuran lebih lanjut perihal pembentukan kepribadian seorang pemimpin, sehingga ia dalam berhubungan dengan orang lain mampu memiliki kemampuan interrelasi yang memukau maka secara mendasar Alfred Adler, telah menelusuri hal tersebut pada diri manusia dini dalam suatu ikatan keluarga, antara anak sulung, anak tengah,  dan anak bungsu. Menurutnya, anak yang lahir pertama atau anak sulung mendapatkan banyak perhatian dari orang tuanya hingga tiba pada kelahiran anak kedua, dimana anak pertama kemudian diturunkan posisinya dan bahkan harus membagi kasih sayangnya dengan sang bayi yang baru lahir. Pengalaman menunjukkan bahwa anak sulung kemudian dapat melakukan berbagai macam tingkah laku, seperti membenci, menyangkal, berlindung diri dan ada kalanya mengenang masa lampau saat ia mendapat perhatian atau menjadi pusat perhatian keluarga. Hasil pengamatan penting Alfred Adler, bahwa manusia neurotik, penjahat, pemabuk, dan bahkan cacat moral dalam suatu masyarakat kebanyakan berasal dari anak sulung. Namun, apabila orang tua berhasil menangani fenomena ini secara bijaksana dengan mempersiapkan anak sulung menghadapi munculnya seorang pesaing, maka besar kemungkinan mereka akan berkembang menjadi seorang dengan pribadi yang bertanggung jawab dan melindungi. Beranjak dari hal tersebut, pada hakikatnya Alfred Adler ingin menggambarkan, bahwa kemampuan seseorang untuk mengembangkan relasi positif secara luas di masyarakat, juga ikut ditentukan oleh berbagai pola hubungan  yang terbentuk dalam suatu keluarga di usia dini. Anak dengan pola hubungan yang neurotik di dalam keluarganya, kelak dalam berhubungan dengan orang lain akan menjalani pola hubungan yang cenderung inter-manipulatif.
Adapun ciri anak kedua atau anak tengah adalah ambisius, dimana ia selalu berusaha melebihi kakaknya, cenderung memberontak atau bersikap iri hati, namun pada umumnya ia dapat menyesuaikan diri dengan lebih baik dibandingkan dengan kakak ataupun adiknya. Tidak demikian halnya dengan anak bungsu yang posisinya selalu dimanjakan dalam keluarga, seperti halnya anak sulung, memiliki kemungkinan besar mereka akan menjadi anak yang bermasalah dan bahkan dimungkinkan dapat menjadi orang dewasa neurotik yang kurang mampu menyesuaikan diri. Pada dasarnya, teori Alfred Adler merupakan salah satu sudut pandang teori psikologi yang mencoba melihat usia dini sebagai pembentukan awal kepribadian manusia, apakah kelak mereka akan tumbuh menjadi pribadi dengan kepercayaan diri dan mampu menjalin hubungan yang nyaman dengan orang lain. Secara prinsipil ia menemukan tiga faktor penting pembentuk kepribadian seseorang, pertama, anak yang memiliki inferiorita, kedua, anak yang dimanjakan, dan ketiga, anak yang terlantar. Anak dengan model pertama (inferiorita) biasanya dicirikan dengan memiliki kelemahan fisik dan jiwanya menanggung beban berat, yang kemungkinan di kemudian hari kurang mampu dalam menghadapi tugas-tugas kehidupan. Mereka seringkali menganggap dirinya sebagai manusia yang gagal. Namun, jika mereka memiliki orang tua yang cukup memahami dan mampu mendorong kepribadiannya, maka mereka bisa melakukan kompensasi berkenaan dengan perasaan inferioritanya dan kemudian mengubah kelemahannya menjadi suatu kekuatan. Sejalan dengan kasus ini, tidak sedikit orang terkemuka di dunia yang di awal hidupnya menderita suatu kelemahan organik yang kemudian berhasil dikompensasikan menjadi suatu kekuatan dalam diri mereka. Sementara anak yang dimanjakan akan kurang berhasil dalam mengembangkan perasaan sosial, dan adakalanya mereka menjadi manusia lalim yang mengharapkan orang-orang disekitarnya menyesuaikan diri dengan keinginan yang berpusat terhadap diri mereka. Sementara anak terlantar yang memperoleh perlakuan buruk pada masa kanak-kanak akan menjadi musuh masyarakat ketika mereka menjadi dewasa, dan bahkan kemudian bisa dikuasai oleh perasaan balas dendam. Ketiga kondisi pembentukan kepribadian tersebut diatas, yakni anak dengan kelemahan oganik dan kejiwaan, pemanjaan, dan penelantaran, akan menimbulkan konsepsi yang salah pada seseorang tentang dunia kehidupan dan bisa berakibat pada gaya hidup patologis. Di panggung sejarah, kita mengenal tokoh-tokoh kontroversial seperti Al Capone, Mussolini, Adolf Hitler, sebagai tokoh monster yang embrio pembibitannya terjadi di dalam keluarga. Berbeda halnya dengan tokoh-tokoh seperti Mahathma Gandhi, Dalai Lama, Martin Luther King, John F. Kennedy atau Nelson Mandela. Perasaan bijak dan dewasa pada diri orang tua dalam mendidik dan membina anak dengan penuh sentuhan kasih sayang, kegembiraan, disiplin, dan optimisme dapat melahirkan pribadi-pribadi optimis dengan penuh kepercayaan diri dan berani menjalin hubungan yang terbuka, tulus, dan dewasa. Generasi anak masa kini banyak yang dilahirkan dalam suasana optimis dan penuh kehangatan, sehingga setelah dewasa mereka mampu menularkannya secara tulus ke dalam lingkungan kerja mereka, dan melahirkan suatu kesegaran dan pembaharuan yang signifikan kedalam lingkungan kerja bisnisnya. Mereka mampu melupakan masa suram dan pahit yang pernah dienyam oleh para pendahulu mereka.
Menurut Alfred Adler, suatu masa yang ditandai oleh lahirnya generasi kreatif, meski daya kreatif merupakan entitas yang sulit digambarkan dan tidak dapat dilihat pada diri manusia, namun akibatnya dapat dirasakan melalui pengaruh-pengaruhnya. Diri kreatif adalah ragi yang mengolah fakta-fakta dunia dan mentransformasikan berbagai fakta-fakta tersebut menjadi kepribadian yang bersifat subjektif, dinamik, padu, personal, dan unik. Diri kreatif memberikan arti pada kehidupan yang menciptakan tujuan, serta sarana atau prasarana untuk mencapainya. Untuk tumbuh kembangnya diri kreatif dan otentisitas pribadi manusia, Erich Fromm menentukan lima kebutuhan manusia yang perlu dipenuhi dan dikembangkan agar mereka tidak terasing dari dunia kehidupannya. Pertama adalah kebutuhan akan keterhubungan, kedua adalah kebutuhan akan transendensi, ketiga adalah kebutuhan akan keterberakaran, keempat adalah kebutuhan akan identitas dan kelima adalah kebutuhan akan kerangka orientasi. Dalam kebutuhan akan keterhubungan, Erich Fromm menyebutnya sebagai cinta produktif yang mengandung perhatian, wewenang dan tanggung jawab, respek dan pemahaman timbal-balik. Begitu juga dengan dorongan transendensi, suatu kebutuhan untuk kreatif tidak hanya sebagai mahluk semata yang pasif.  Selanjutnya manusia butuh akan keterberakaran, atau ingin menjadi bagian integral dari kehidupan dunia, dan merasakan ikut memiliki bagian dari akar-akar alaminya. Dan akar yang paling memuaskan dan paling sehat adalah jalinan rasa persaudaraan dan kekeluargaan dengan pria dan wanita lain. Begitu juga seseorang membutuhkan akan rasa identitas sebagai pribadi dan individu yang unik, perasaan tersebut bisa terpenuhi dengan mengidentifikasikan dirinya  dengan tokoh atau kelompok lain, tetapi juga bisa dengan rasa memiliki seseorang. Pada akhirnya manusia membutuhkan kerangka acuan, yakni suatu cara yang stabil dan konsisten dalam memahami dan memandang dunia. Kebutuhan-kebutuhan tersebut menurut Erich Fromm tidak diciptakan oleh masyarakat, melainkan telah tertanam dalam kodrat manusia melalui proses evolusi. Para pemimpin masa kini perlu memahami dan memberikan rasa empatik terhadap berbagai kebutuhan alami dan kodrati manusia tersebut, sebagai suatu saling keterhubungan dan saling pengaruh timbal-balik dan bersifat konstruktif. Hasilnya dapat dirasakan oleh Robert Eaton ketika ia membentuk semacam kelompok diskusi lintas fungsi, tempat berkumpul semua orang yang terlibat dalam pembuatan kendaraan, dari gagasan, konsep, hingga ke pemasaran. Semua kebutuhan manusiawi setiap individu dihargai dan diberi tempat, dengan meningkatkan iklim komunikasi, perkembangan yang lebih efisien, berkurangnya pengeluaran dan pesatnya peningkatan produksi. Dari kelompok diskusi ini, salah satunya menghasilkan Chrysler Neon. Para pemimpin kelompok kerja mengumpulkan berbagai masukan dan saran dari para pemasok dan pihak-pihak lain yang awalnya tidak memiliki hubungan kerjasama, misalnya dengan United Auto Worker Union. Para pekerja dalam tahapan perakitan ternyata dapat menyumbangkan lebih dari 4000 masukan dan usulan perubahan untuk proyek tersebut. Hasilnya merupakan kejutan luar biasa dalam industri mobil, Neon berhasil menyaingi pabrik-pabrik pembuat  mobil kecil Jepang di pasaran Amerika Serikat. Toyota yang mengumumkan penelitian paling cermat terhadap kendaraan bermotor saingannya, mengakui bahwa Chrysler Neon menerapkan “design-in cost savings” yang belum pernah ada dalam sejarah industri otomotif Amerika Serikat. Chrysler Neon mempertahankan momentum ini terus berkembang, dengan melibatkan semua pekerja, manajer, pemasok dan para pemegang saham dalam menciptakan iklim kerjasama yang paling bijak, empatik dan paling tulus dalam industri manapun.
Tidak dapat dipungkiri disini jika faktor manusia dikelola dengan benar, dengan menempatkan dan memahami seluruh kebutuhan alami mereka secara tulus, maka akan muncul kekuatan dahsyat dari jalinan kerjasama raksasa yang konstruktif, sebagaimana dikatakan oleh Robert Grudin dalam On Dialog: “karena hidup dicirikan oleh interaksi terbuka yang saling timbal-balik, maka dialog adalah cara termudah yang dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk mendapatkan daya hidup.”
Jakarta, 8 Desember 2011
Faisal Afiff

Kepemimpinan Paradigma


Kepemimpinan  Paradigma

Jangan menunggu datangnya pemimpin masa depan…pimpinlah apa yang bisa anda lakukan saat ini(David J.Wolpe)
Sebagaimana telah dikenal, bahwa paradigma atau pandangan merupakan serangkaian aturan yang digunakan untuk mengevaluasi informasi yang diterapkan dalam kehidupan seseorang. Setiap orang memiliki paradigma masing-masing didasarkan pada pengalaman hidup mereka serta  bermanfaat dalam banyak hal, namun dibalik itu bisa membatasi alam pikirannya. Sebagai misal,  paradigma dapat mengabaikan dan  bahkan luput dari peluang seseorang.
Sebagai ilustrasi kongkret, sebelumnya bangsa Swiss memiliki supremasi kepemimpinan dalam bidang pembuatan arloji. Namun hanya dalam satu dasawarsa saja, kepemimpinan Swiss merosot tajam sebagai pemain penting di dunia dalam bidang pembuatan arloji.  Gagasan arloji quartz pernah ditolak oleh pebisnis arloji di Swiss, karena dianggap tidak sesuai dengan cara kebiasaan mereka dalam pembuatan arloji. Bahkan para produsen arloji di negara tersebut tidak melihat peluang dibalik konsep teknologi arloji quartz sehingga mereka “lalai” untuk mematenkan dan mengembangkan gagasan tersebut.
Disisi lain, perusahaan arloji Seiko dan Texas Instrument justru menyambut baik gagasan teknologi quartz yang dipamerkan di salah satu pameran dagang dan kemudian telah menghasilkan keuntungan yang relatif besar bagi kedua perusahaan tersebut. Keterpakuan pada paradigma sendiri seperti  melihat dunia melalui jendela yang sama. Oleh karena itu, yang  mampu kita lihat dari dunia hanya sebagian kecil saja. Sebagai seorang pemimpin perlu melakukan pergeseran paradigma, atau seperti menemukan sebuah jendela baru secara tiba-tiba sehingga tampak “terang benderang”, begitu pula hal-hal yang lama dapat dilihat dengan sudut pandang yang berbeda dan baru. Dengan merubah paradigma kita untuk melihat jendela yang lain, kita akan lebih mudah berpikir di luar kebiasaan untuk memunculkan solusi baru yang inovatif.
Dalam bukunya dengan judul Developing a 21 st Century Mind, tokoh pendidik Marsha Sinetar memperkenalkan istilah “adaptasi kreatif” untuk lebih menggambarkan pergeseran paradigma diatas dalam ranah praktis. Adaptasi kreatif lebih merupakan permainan imajinatif yang mensinergiskan cara berpikir logis-sekuensial dengan kemampuan emosi-intuitif dimana hal tersebut melibatkan seluruh kemampuan akal untuk menyelesaikan masalah secara efektif dan efisien. Suatu konsep yang belakangan ini sering kita dengar melalui istilah-istilah baru, sebagai cara melakukan proses penyelesaian masalah,  seperti berfikir vertikal, berfikir lateral, berfikir kritis, berfikir analitis, berfikir strategis, dan berfikir kreatif. Hal tersebut menunjukkan adanya keinginan manusia untuk menggunakan kemampuan  akalnya secara optimal, baik itu otak kiri atau otak kananmya.
Dalam praktek penyelesaian suatu masalah, penggunaan kedua fungsi otak  tersebut berlangsung secara berhubungan sebagai kombinasi pemikiran kreatif dan logis, sehingga pemecah masalah sejati acapkali menggunakan kombinasi dari semua proses itu. Mereka sering menggunakan 5 (lima) tahapan dalam mengalirkan proses berfikir kreatif, yakni dimulai dengan tahap persiapan, sebagai upaya dalam merumuskan masalah, penetapan tujuan dan mengenali tantangan. Selanjutnya masuk ke tahap inkubasi, yakni sebagai upaya mencerna fakta-fakta (fenomena dan isu) dan mengolahnya dalam alam pikiran mereka. Kemudian masuk tahap iluminasi, yakni memunculkan gagasan-gagasan baru yang disusul dengan tahap verifikasi, yakni upaya memastikan apakah solusi itu benar-benar memecahkan masalah. Dan terakhir memasuki tahap aplikasi, yakni upaya menindaklanjuti solusi-solusi yang telah diperoleh. Pada dasarnya, kelima tahapan ini merupakan kombinasi dari kelincahan penggunaan kedua fungsi otak secara maksimal, terpadu, dan efektif. Meskipun hal tersebut tidak terlepas kemungkinan dari munculnya antitesis.
Alur berfikir diatas dapat kita terapkan dalam aktivitas keorganisasian, yang merupakan salah satu fungsi penting dalam manajemen. Organisasi seperti halnya manajemen, yang terdiri dari dan melibatkan banyak individu, bisa saja masing-masing individu  memiliki tujuan yang berbeda dengan tujuan organisasi. Perbedaan tersebut pada hakikatnya dapat dimanfaatkan untuk menciptakan inovasi dalam organisasi melalui kemampuan berkreasi yang dimiliki setiap individu dalam organisasi. Jika seorang pemimpin dalam suatu organisasi menginginkan anggotanya memberikan andil secara sukarela dan menggunakan kreativitas alaminya, maka Ia selaku pemimpin harus mencontohkan  terlebih dahulu. Salah satu cara untuk memberikan contoh kepada bawahan dan atau rekan kerjanya adalah dengan menunjukkan kreativitas dan kepercayaan diri untuk berani mengambil risiko dengan harapan orang lain mau mengikutinya.

Pada hakikatnya terdapat berbagai tipe individu dalam organisasi. Ada individu yang berhasil dengan atau tanpa bantuan seorang pemimpin, mereka dapat bekerja mandiri dan tidak terlalu menghiraukan bagaimana atasan memperlakukannya, selain terus memberikan kontribusi optimal terhadap organisasi serta termotivasi sendiri secara internal. Di sisi lain mungkin kita menemukan tipe individu yang susah diatur dan memberikan kesan menentang. Individu tipe ini bisa saja untuk sementara waktu menjadi bagian dari organisasi, sampai pada saatnya mereka akan berlalu. Mereka bukan tidak dapat dikendalikan, namun tidak juga dibawah kendali pimpinannya.
Disamping kedua tipe diatas, terdapat pula tipe individu dalam organisasi yang tidak akan behasil jika tidak didorong oleh atasan kerjanya sehingga seorang pemimpin perlu mencurahkan perhatian secara khusus. Usaha yang dapat dilakukan adalah dengan melihat, belajar, dan menikmati keberadaan mereka selagi bisa. Dalam suatu organisasi, sebagian besar yang biasa ditemui adalah kelompok individu yang berada di tengah-tengah, dimana sebagian dari kelompok individu ini mampu bekerja dengan bantuan seorang pemimpin, dan sebagian lagi  kreativitasnya muncul jika diberi lingkungan kerja yang tepat. Sebagai seorang pemimpin yang memiliki kewenangan  dan tanggung jawab perlu menciptakan lingkungan kerja yang kondusif.
Penciptaan kreativitas dimulai dengan memecahkan kebiasaan dan pola pikir yang sudah terbentuk dengan mengambil pandangan yang berbeda dan baru. Namun sebagian orang lagi berpendapat, lebih mudah mengubah lingkungan kerja  seseorang daripada mengubah kepribadian atau perilaku mereka untuk menyesuaikan dengan lingkungan kerjanya. Strategi yang terbaik adalah mengupayakan perubahan-perubahan tertentu pada gaya kepemimpinan dan memodifikasi situasi gaya kepemimpinannya agar sesuai dengan harapan kelompok individu dalam organisasi.
Hal terpenting yang perlu dimiliki seorang pemimpin paradigma adalah senantiasa memiliki impian dan keinginan, sebagai alasan kuat untuk tetap menarik kelompok individu yang berada dibawahnya dan menggerakkan mereka agar tetap berbicara tentang masa depan, dan inilah yang disebut dengan tujuan dan tidak justru sebaliknya tersusul dan mengikuti arus.
Memiliki tujuan dalam artian objectives adalah mengetahui dengan jelas arah masa depan seperti apa yang diinginkan, dan hal ini berbeda dengan tujuan dalam artian goals yang lebih menekankan pada pencapaian sesuatu yang lebih spesifik. Hal tersebut dapat dianalogikan seperti, jika kita memiliki “tujuan” atau objectives  untuk mencapai puncak tertinggi di Indonesia, maka yang menjadi “tujuan” atau goals tahun ini adalah  mencapai puncak gunung kerinci. Yang lebih mendekati  tujuan  dalam artian objectives adalah visi, dan karenanya,  visi sering didefinisikan sebagai tujuan akhir atau titik akhir. Suatu visi cenderung berfokus pada menerangkan apa yang ingin dicapai oleh individu atau organisasi. Tujuan individu bisa saja sebagai suatu yang unik  dan tidak dimiliki orang lain, sementara tujuan organisasi adalah apa yang menjadi falsafahnya.
Formulasi tujuan dari kedua artian tersebut diatas nampak sederhana namun merupakan konsep yang memiki makna yang dalam. Tentunya tujuan adalah semua tentang masa depan dan apa yang dapat dikerjakan serta terus dapat dikerjakan. Tujuan memberikan arah kemana manusia akan pergi. Jadi prestasi dan capaian yang diraih di tengah perjalanan tidak mengalihkan tujuan, dan dalam hal ini  prestasi  hanya berfungsi sebagai penguat saja, sementara tujuan akan mengarahkan semua hal tentang sesuatu yang akan dituju. Inilah yang memungkinkan para pemimpin memusatkan energi dan perhatian secara penuh dan mencari sesuatu yang penting bagi mereka, dengan berpaling pada hal-hal yang tidak atau kurang relevan. Para pemimpin paradigma, yakni mereka yang yakin dengan tujuan dan tidak akan terlalu dipengaruhi oleh perubahan internal serta mampu mengelola perubahan eksternal secara lebih efektif. Dalam upaya mencapai tujuan tersebut, seorang pemimpin paradigma senantiasa akan ditantang untuk melakukan “adaptasi-kreatif” terhadap perubahan yang terjadi, baik yang terjadi di lingkungan internal maupun eksternal, dan dalam memecahkan masalah mereka dapat  menggunakan 5 (lima) tahapan alur berfikir kreatif sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.
Dewasa ini akses mendapatkan informasi semakin mudah dan cepat. Semakin mudah dan cepat informasi diterima, maka semakin cepat orang menyerap, mengombinasikan dan merekombinasikannya untuk menciptakan konsep, teori, fakta, dan penemuan baru yang lebih banyak lagi. Kesemuanya ini menyebabkan perubahan lingkungan di dunia semakin bertambah cepat serta memiliki implikasi yang luar biasa besarnya bagi kehidupan manusia, baik selaku individu maupun kelompok individu, baik sebagai warga lokal maupun warga global, apapun profesinya.
Apabila manusia terpaku pada informasi lama dan beradaptasi secara pasif saja, maka mereka akan hanyut tertelan arus perubahan, baik internal maupun eksternal. Dengan demikian, seseorang harus memiliki kemampuan untuk mengendalikan gelombang perubahan di era-informasi dewasa ini. Selain itu, manusia harus memiliki ketrampilan berfikir kreatif agar mampu mengasimilasikan informasi untuk kepentingan organisasi, baik organisasi bisnis maupun publik.
Dibalik derasnya gelombang informasi diatas, dalam mengatasi segala masalah, suatu solusi ataupun resolusi akan muncul dari pengetahuan yang sudah dimiliki seseorang atau mengambil pendapat orang lain, sebagaimana dikatakan oleh William Shakespeare “tak ada yang baru di bawah matahari, yang ada hanyalah versi dan kombinasi baru”. Bahkan gagasan yang dianggap revolusioner pun berakar dari fondasi pengetahuan yang mapan. Melalui pergeseran paradigma, kreativitas seorang pemimpin akan mampu melakukan lompatan yang belum pernah dialami sebelumnya. Pemimpin paradigma harus yakin pada kemampuannya sendiri untuk mengeksplorasi dan memunculkan solusi-solusi baru bagi tantangan-tantangan yang lebih serius. Para pemimpin paradigma bisa saja menatap horison dalam lingkup global, namun tetap berbuat dalam lingkup pengaruhnya sendiri dengan cara yang bijaksana, kreatif dan melihat ke depan. Untuk melakukan hal ini, para pemimpin paradigma harus mampu menyerap dan memilah informasi dan tampil dengan solusi atau resolusi baru untuk berbagai tantangan.  Dalam konteks bisnis, William Ahmanson - Ketua Dewan Komisaris National American Life Insurance Company - menyatakan “tidak ada jalan lurus yang dapat anda tempuh dari tempat yang satu ke tempat yang lain”.

Jakarta, 30 November 2011

Faisal Afiff